Hari Santri Nasional Yang Perlu Diketahui Khalayak Publik Yang Mempunyai Makna Luar Biasa

 

Hari Santri Nasional Yang Perlu Diketahui Khalayak Publik
ilustrasi sumber pixabay : Hari Santri Nasional Yang Perlu Diketahui Khalayak Publik Yang Mempunyai Makna Luar Biasa


hari santri nasional - Hari Santri Nasional mempunyai makna, arti, dan filosofi yang besar untuk bangsa Indonesia, hingga harus dipahami riwayat dan background diputuskannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.


Hari Santri ialah hari untuk mengingati peranan besar golongan kiai dan santri dalam perjuangan menantang penjajahan bangsa asing, bersamaan dengan resolusi jihad Mbah KH Hasyim di tanggal 22 Oktober.


Itu sebagai argumen mengapa Hari Santri Nasional diputuskan di tanggal 22 Oktober, sebelumnya setelah Presiden Jokowi memiliki pendapat di tanggal 1 Muharram.


Riwayat menulis, beberapa santri bersama dengan pejuang bangsa yang lain mempunyai peranan besar dalam merampas kembali kedaulatan negara dari kolonialisme bangsa asing.


Presiden Joko Widodo mengaminkan peranan bersejarah golongan santri. Mereka yang turut berusaha dan mempunyai peranan dalam jaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), diantaranya KH Hasyim Asy'ari pendiri organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A Hassan dari Tepat, Abdul Rahman dari Matlaul Anwar, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad. Belum juga beberapa perwira atau prajurit Pembela Tanah Air (Peta) yang banyak pula dari kelompok santri.


Makna dan arti

Hari Santri Nasional di tanggal 22 Oktober mempunyai makna dan arti yang perlu untuk kelompok santri sendiri dan seluruh komponen bangsa.


Dalam riwayat, peranan mereka dalam perjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak disangsikan kembali. Mereka turut merampas Indonesia, membuat Indonesia dan menjaga NKRI.


Saat ini, semenjak 22 Oktober diputuskan sebagai Hari Santri Nasional di tahun 2015 lalu, hari itu jadi refleksi untuk kelompok santri dan bangsa untuk mengingat lagi riwayat perjuangan golongan ponpes dalam berusaha menantang penjajah.


Refleksi dan ingat kembali ke riwayat ialah suatu hal yang perlu. Daya ingat riwayat akan memberi perbekalan untuk beberapa santri pada jaman kekinian saat ini selalu untuk berbenah, membenahi kualitas diri untuk perkembangan bangsa Indonesia di depan.


Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), KH Abdul Ghoffar Rozien atau Gus Rozin ke Islamcendekia.com di Pati, Jawa tengah, benarkan hal itu. Ia menghimbau ke beberapa santri untuk jadikan Hari Santri Nasional sebagai momen untuk berbenah.


Karena, dianggap atau mungkin tidak, santri sekarang ini ditempatkan pada keadaan yang lebih berat karena ada peralihan global yang demikian masif.


"Silahkan, Hari Santri Nasional jadi momen untuk berbenah, tingkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri untuk menjawab dan hadapi rintangan, dan peralihan-perubahan global," kata Gus Rozien.


Dengan begitu, Hari Santri Nasional mempunyai makna, arti dan filosofi yang tidak cuma diperingati secara euforia atau resmi semata, tapi jadi momen untuk refleksi yang selanjutnya jadikan dasar refleksi itu untuk berbenah dan terus tingkatkan kualitas santri untuk perkembangan bangsa.


Hari santri mengingati kita kembali akan keutamaan peranan santri dari jaman ke jaman, semenjak jaman penjajahan sampai sekarang ini.


Pada zaman modern-kontemporer saat ini, santri turut peran dalam mengembangkan, menghadapkan di antara pengetahuan Islam murni dan ilmu dan pengetahuan atau sains. Mereka dalam status menolong TNI siap juga menjaga NKRI.


Riwayat dan background

Hari Santri Nasional diputuskan pada periode pemerintah Presiden Jokowi, diawali pada 22 Oktober 2015 dan bersambung tiap tahunnya, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025, dan sebagainya.


Argumen dan background 22 Oktober diputuskan sebagai hari santri nasional untuk ingat, menghargakan, menghargai peranan bersejarah beberapa santri dalam perjuangkan dan jaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Peranan kelompok ponpes yang sebegitu besar tersebut yang membuat 22 Oktober diputuskan sebagai hari santri nasional. Mengapa 22 Oktober? Apa argumennya?


22 Oktober ialah hari atau tanggal di mana resolusi jihad dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) digelorakan.


Itu penyebabnya, saran Presiden Joko Widodo untuk memutuskan Hari Santri di tanggal 1 Muharram tidak jadi dipakai.


Ada adat dan budaya yang unik untuk santri dalam menyongsong hari itu. Mereka umumnya melangsungkan karnaval, arak-arakan atau kirab yang mental akan menghidupkan kembali semangat mereka sebagai seorang santri yang punyai peranan besar dalam perkembangan bangsa.


Pertama kalinya dirayakan, ada adat kirab jihad resolusi dari PBNU dari Surabaya ke arah Jakarta. Diperjalanan kirab, mereka berkunjung di beberapa tempat.


Satu diantaranya di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa tengah yang disebut satu antara pesantren paling besar dan punya pengaruh di Indonesia.


sumber : comunitynews

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak